Next Post

Upaya Menangkal Intoleransi dan Radikalisme, Komunitas Iqro’ bil Qolam di Mojokerto Gelar Pelatihan Membaca Kitab Kuning

Mojokerto – Semakin maraknya demonstrasi yang mengusung isu SARA beberapa tahun terakhir memang membuat hati banyak orang merasa miris. Bayang-bayang perpecahan atau disintegrasi bangsa senantiasa hadir di pelupuk mata saat suatu kelompok massa mulai menarik keras garis perbedaan.

Atas dasar keprihatinan tentang kondisi tersebut, beberapa ustadz dan santri di Mojokerto yang tergabung dalam komunitas Iqro’ bil Qolam melaksanakan Pelatihan Membaca Kitab Kuning untuk masyarakat. Pelatihan yang dilakukan di luar lingkungan Pondok Pesantren dengan tujuan mengajak masyarakat untuk belajar membaca dan memahami isi kitab karya para ulama dan cendikiawan Islam. Selain itu, pelatihan juga dilaksanakan secara daring (dalam jaringan atau online) agar lebih mudah menjangkau wilayah di luar Mojokerto, karena sasaran program ini adalah seluruh daerah di Provinsi Jawa Timur.

Dalam pelatihan yang dilaksanakan Jumat (14/8/2020), menggunakan aplikasi Zoom, diikuti peserta dari Madura, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Gresik, Surabaya, Situbondo dan Bondowoso. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendidikan karakter berbasis budaya menulis Al Quran dan mahir membaca kitab kuning yang dibiayai oleh dana hibah dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa cq. Kepala Biro Kesejahteraan Sosial, Dr. Hudiono, M.Si.

Oleh Ustadz Farzain, Koordinator Komunitas Iqro’ bil Qolam, kemampuan membaca kitab kuning yang merupakan kitab karangan para ulama disebut sangat penting. Karena dengan belajar membaca kitab kuning, seseorang juga akan belajar bahasa Arab. Dimana sebagian kitab masih ditulis dengan huruf gundul (tanpa harokat) sehingga untuk membacanya, seseorang harus menguasai bahasa Arab, baik kosakata maupun struktur kalimatnya.

“(Kemampuan membaca) ini penting, dalam tradisi Islam dikenal sistem Sorogan atau setoran. Dimana santri belajar membaca Al Quran, hadist, nahwu dan lain-lain, kemudian dikoreksi oleh gurunya. Sehingga setiap ilmu akan ter-tasykeh, tidak hanya mengandalkan terjemahan dari orang lain, apalagi dari (mesin pencari) Google yang kita tidak tahu siapa penerjemahnya,” ucap pria yang akrab disapa Pak Guru ini.

Menurut Pak Guru, seringkali faham intoleran dan radikalisme berkembang dalam suatu kelompok termasuk agama Islam disebabkan oleh kurangnya kemampuan membaca. Sehingga dengan minimnya budaya literasi tersebut berakibat mudah dibelokkan oleh pihak luar atau pihak yang berkepentingan, karena kurangnya pemahaman tentang agama Islam.

“Itulah kenapa di NU (Nahdlatul Ulama) faham intoleran dan radikalisme Islam tidak bisa berkembang, karena orang-orang NU terbiasa membaca kitab kuning dan menguasai metode tafsir. Sehingga penafsiran yang berbeda atau salah akan langsung terlihat oleh mereka,” tuturnya.

Lebih jauh, Pak Guru menyampaikan pelatihan membaca kitab kuning ini penting sebagai upaya membentengi anak bangsa dari pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan karakter Indonesia yang islami, seperti perilaku penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dan lain-lain.

Dalam pelatihan yang diselenggarakan hari Jumat (14/8/2020), turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur mewakili Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa untuk melihat langsung proses pelatihan membaca kitab kuning dengan metode Al Miftah lil Ulum yang sudah teruji menjadi metode pengajaran selama bertahun-tahun di Pondok Sidogiri, Pasuruan. Dengan metode ini, Insyaallah bisa dipastikan dalam 23 jam, santri akan bisa membaca kitab kuning.

Sebagai informasi, untuk masyarakat yang berminat mengikuti pelatihan membaca kitab kuning dapat menghubungi Ustadz Farza’in di nomor ponsel 081808000375 atau bisa datang langsung ke Sekretariat di Benpas Corner Blok I, Jalan Benteng Pancasila 27, Kota Mojokerto. (ujo/ian)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *