Next Post

Ungkapan Rasa Syukur, Koalisi Partai Pengusung Rilis Gelar Deklarasi

Ponorogo – Para partai pengusung pasangan bakal calon Sugiri Sancoko – Lisdyarita akhirnya mendeklarasikan diri. Mengambil tempat di Monumen Bantarangin, empat partai, terdiri dari PDIP, PAN, PPP dan Hanura melaksanakan deklarasi untuk mengusung pasangan tersebut dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo yang diselenggarakan tanggal 9 Desember mendatang.

Sugiri Sancoko mengatakan, deklarasi ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana setelah melalui proses panjang akhirnya rekom yang dibutuhkan, tercukupi.

“(Deklarasi) ini adalah wujud rasa syukur. Akhirnya kita mendapatkan rekom. Meskipun jumlahnya pas 9 kursi, tetap kita syukuri. Karena kita memang kecil, yang akan berjuang bersama rakyat kecil,” ungkap pria yang akrab disapa Pak Giri ini kepada awak media, Jumat (28/8/2020).

Meski telah melakukan deklarasi, Giri menyatakan pihaknya masih tetap membuka diri bagi partai lain untuk bergabung dalam koalisi.
“(Kesempatan) masih terbuka. Semua bisa dimusyawarahkan. Tentunya produk hasil musyawarah akan lebih baik dari produk hasil (hegemoni) kekuasaan,” ucapnya.

Keakraban Sugiri Sancoko bersama para relawan pendukungnya. (Foto: Suwandi/jponline.id)

 

Pria yang maju untuk kedua kalinya dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo tersebut, sepertinya sudah banyak berubah. Jika pada pemilihan sebelumnya, dia seolah tertutup. Pada pemilihan kali ini dia begitu terbuka, bersahabat dan selalu tersenyum. Jauh dari kesan sombong atau arogan.

“Kita ini pasangan yang berangkat dengan modal kecil, berjuang bersama untuk rakyat kecil. Tidak bisa kita menjaga jarak, rakyat butuh sentuhan, baik secara langsung maupun kebijakan,” ujarnya.

Disinggung tentang modal kecil, Giri mengungkapkan, dirinya bersama pasangannya, Lisdyarita memang tak punya modal besar sampai (yang katanya) ratusan milyar. Dalam pemilihan ini, dia bersama pasangan dan timnya akan melakukan pendekatan dari hati ke hati untuk membangun kesadaran kolektif (bersama, red).

“Makanya teman-teman relawan mengambil simbol semut lawan gajah. Tapi, ya, ga mungkin kita maju tanpa modal. Cuma sifatnya proporsional,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini adalah momentum untuk mengembalikan demokrasi pada kedaulatan rakyat. Sehingga apa yang disebut sebagai ‘kecelakaan politik’ oleh para perwakilan relawan di Kantor DPC PDIP saat digelar doa bersama beberapa waktu lalu tidak terulang kembali.

“Sekali lagi, uang bukan yang utama. Pertimbangannya sekarang adalah keberpihakan. Petani butuh air, masyarakat butuh jalan dan seterusnya. Dan masyarakat tidak akan mau direndahkan dengan perkataan ‘yang penting uang’, mereka punya harga diri,” tandasnya. (one/ian)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News