Next Post

Sambut 1 Suro, Warga Gasmi Gelar Kenduri Seribu Obor di Desa Munggu

Ponorogo – Menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah (1 Muharram atau 1 Suro), bisa dilakukan dengan banyak cara. Di Ponorogo, malam 1 Suro biasanya diperingati dengan kenduri atau selamatan yang digelar bersama oleh penduduk desa, dusun atau lingkungan yang lebih kecil. Mereka biasanya membawa makanan berupa nasi kuning lengkap dengan lauknya dan janur. Selanjutnya dipanjatkan doa bersama. Melalui kenduri ini, masyarakat memohon kepada Tuhan agar senantiasa diberikan kemudahan, keselamatan dan keberkahan dalam mengarungi tahun yang akan datang.

Namun ada yang berbeda dengan yang terjadi di Desa Munggu, Kecamatan Bungkal. Ratusan warga Gasmi (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia) Ranting Munggu bersama Ranting Nambak dan Kalisat serta Rayon Bungkal, menggelar kenduri menyambut tahun baru Islam tersebut di tengah penerangan lampu obor, Rabu malam (19/8/2020).

Dalam acara yang bertajuk “Kenduri Seribu Obor” tersebut, pelaksanaan doa bersama atau tahlil ratusan warga Gasmi menancapkan seribu obor yang mengelilingi jamaah tahlil. “Acara ini memang kita kemas dengan malam doa bersama ribuan obor dan takir (tempat nasi berbentuk kotak yang terbuat dari daun pisang,” kata ketua Ranring Gasmi Munggu, Mohammad Saifudin.

 

Ketua Ranting Gasmi Desa Munggu, Mochammah Saifudin, memotong tumpeng usai doa bersama, Rabu (19/8/2020).

Dalam sambutannya, Ketua Ranting NU Munggu, Abdul Kholiq mengatakan acara ini merupakan bentuk sinergi antara NU dan Gasmi. “Mari acara seperti ini kita jalin terus dan semoga Gasmi di Munggu berkembang pesat,” harapnya.

Kepala Desa Munggu, Sukamto yang juga hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi kepada pihak Gasmi sebagai penyelenggara. “Saya sangat berterimakasih atas doa bersama malam ini, dan semoga Gasmi di Munggu bisa berdampingan damai dengan perguruan lain, karena di Munggu ada beberapa perguruan,” harap Kepala desa.

Pembina Gasmi Munggu, Sapto menjelaskan filosufi obor yang dipasang saat jalankan doa tahlil. “Ini tadi saat berdoa lampu dimatikan digantikan ribuan obor yang kita nyalakan ini menandakan bahwa obor adalah urup , urup adalah urip (hidup) jadi Warga gasmi diharapkan hidupnya bisa memberikan penerangan kepada orang lain dalam arti beri manfaat dan kedamaian. Kami berharap Gasmi di Munggu terus berkembang bisa mencapai ribuan seperti hitungan obor yang kita pasang dan kita nyalakan,” urainya.

“Sementara Takir ini istilah kenduri mapak tanggal pakai tempat nasi yang terbuat dari daun pisang, karena kita semua satu rasa dan makan bareng dengan takir, takir artinya ben tatak olehe mikir, warga Gasmi harus punya pola pikir yang jernih,” pungkas Sapto. (lam/one)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *