Next Post

The Avangers of Petruk ala Ponorogo

Oleh

Hafidz Syarif Rusli, S.Ag., M.H.

Praktisi Hukum, Akademisi dan Pemerhati Sosial

 

 

“Petruk Dadi Raja dengan julukan Belgeduwelbeh hanya sebatas simbol ketidak-becusan seorang pemimpin, atau seorang yang tidak layak menjadi pemimpin dijadikan pemimpin. Bisa diartikan sebuah khayalan berlebih, akibatnya, terjadi sebuah kekacauan”.

 

 

Episode terakhir Petruk Dadi Ratu ditutup dengan turunnya Semar mengatasi kondisi : ” ………Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. “Ah… hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak perduli” Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur: “Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinukarto….” Ringkasan Kisah Petruk Dadi ratu.

Adventure seorang punokawan yang bernama Petruk menuntut pembalasan karena tahu betul karakter abdi abdinya yang diasuh sejak jaman Arjuno Sosrobahu hingga Parikesit Raja Astina. Berbagai keegoisan, kelicikan, hingga kebaikan, kebijaksanaan dalam meraih kekuasaan tertinggi yaitu Raja.

Kuat sekali keinginan Petruk untuk menjadi seorang raja, akhirnya terbukti, Petruk menjadi raja dengan julukan Belgeduwelbeh, Ironis, Belgeduwelbeh dalam memimpin sebuah kerajaannya begitu kacau, dengan gaya politik yang “sak karepe dewe”

Melihat, merasakan, mendengar perjalanan politik yang ada di Ponorogo begitu miris ketika kilas balik pada tahun 1998, penuh dengan intrik, konflik-konflik. Hingga sekarang pun trauma masyarakat Ponorogo, bisa dirasakan, saling tunggang menunggang, kerisauan disebabkan kerusuhan para aktor politik yang ingin menjadi penguasa.

Melihat kondisi saat era reformasi khususnya di Kota Ponorogo dengan julukan Kota Reog menampilkan banyak kesaksian peristiwa kejadian dalam perubahan kehidupan warga Ponorogo.

Apalagi dalam menyongsong Pilkada serentak tahun 2020, baik secara individu atau kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik, berkebangsaan di Ponorogo. Faktor paling utama ada kecenderungan mendorong terjadinya proses perubahan dengan pemahaman nilai-nilai pluralisme kebhinekaan, baik oleh warga masyarakat Ponorogo, maupun pemimpin atau penguasa. Namun ada indikasi kuat memudarnya nilai – nilai tersebut.

Kondisi ini dapat dilihat dari kecenderungan terjadinya konflik antar individu, kelompok masyarakat yang berbeda agama, ras, suku/etnik, budaya, dan berbeda kepentingan, serta rendahnya moral penguasa seperti banyaknya kepala daerah dan anggota dewan.

Hal ini penulis gambarkan ilustrasi Petruk sama Bagong dalam percakapannya ketika Petruk jadi raja Belgeduwelbeh, “Gong Bagong Apakah yang kau rasakan nanti dengan pemimpinmu yang baru atau anyar?, “ jawab Bagong.

“Oh, sudah ada pemimpin baru toh, rasanya kok mimpi ternyata sudah mau ganti pimpinan,” jawab Petruk. “Kau memilihnya nanti dengan pikiran tenang atau sedang kacau, Gong ?,” tanyanya.

Dengan tanggap Bagong menjawab, “Lah, apa peduliku, penting khan aku besok mencoblos”. “Nantikan dapat fulus ya…?, ” timpal Petruk. “Bahhhh, itu perbuatan dosa tahu…!” jawab Bagong. “Hah, kalau mabuk-mabukan setiap hari apa tidak dosa, “ timpal lagi Petruk. “Itu sebagian dari iman…,“Wuiiih, kampret, cuiiing!”

Semar pun datang memberikan solusi kepada anak-anaknya dengan berkata, “Truk, Gong, makanya ngaca, wajah njleketot dan otak pas-pasan, mau mengritik pemimpin yang sekolahnya saja jauh-jauh di luar sono, rakyat Ponorogo wis pinter kabeh (red: pinter semua), bendoro – bendoromu sing podho bingung sendiri, pingin dadi penguasa sing diajeni marang sapodo – podo, nanging wis keblinger kiblate, kodrate sebagai titah marang Gusti Allah, opo wae sing dilakukan ora wedhi karo pertanggungjawaban di akhirat, kalau begitu dilihat saja lakune bendoro – bendoromu, kita ini cuma punokawan atau rakyat, ben sing umyek bendoro – bendoromu, engko lak bingung dewe, kita sebagai punokawan ibaratnya jadi es yang bisa ngademne rakyat di Karang Kademel atau Ponorogo ini. ” Iya, Pak, siap laksanakan tugas, ” jawab Petruk dan Bagong,

Dari percakapan Semar, Petruk dan Bagong, apabila rakyat mengkritik para politikus yang ingin jadi penguasa, bukan masalah sekolahnya yang jauh dengan gelar segunung. Masalah eksekusi pekerjaan. Tantangan memimpin di Ponorogo ini berat. Banyak berkumpul preman, begajulan, bekas koruptor, penipu, jambret, desersi prajurit. Pemimpin di kota Ponorogo harus tegas, kalau tidak akan diperalat dan dimanfaatkan oleh mereka.

Kehidupan di kota Ponorogo notabene sebagai kota berjuluk Kota Reog dipengaruhi perkembangan lingkungan strategik sehingga wawasan harus mampu memberi inspirasi pada suatu daerah dalam menghadapi berbagai tantangan yang timbul dalam kejayaan.

 

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *