Next Post

Sarasehan Dan Kopilaborasi Sambang Pesantren OPOP Khofifah : ” Hadirkan ruh pesantren, ruh spiritual dikalangan ASN”

Mojokerto, jagadpos.com – Seharian kemarin Ahad, tanggal 28 Februari 2021 bertempat di Masjid Kampus Institut Kyai Haji Abdul Chalim (IKHAC) jalan Tirtawening Bendunganjati Pacet Mojokerto diselenggarakan Sarasehan dan Kopilaborasi Sambang Pesantren oleh OPOP Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sarasehan digelar mengawali acara sebelum dilakukan opening ceremony yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si bersama Kadiserindag Provinsi Jawa Timur , Kadis KUKM dan Kadis Infokom dan OPOP.

Sarasehan mengambil tema Management Pesantren Menuju Pesantren Bangkit dan Penanggulangan Covid-19 dengan Nara Sumber Prof. DR. KH. Asep Syarifuddin Chalim, M.Ag pemangku Pondok Pesantren Amanatul Ummah Kembangbelor Pacet Mojokerto dan dipandu moderator oleh Ghafirin Sekretaris OPOP (One Pesantren One Product /Satu Pesantren Satu Produksi) Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kyai Asep mengatakan : “Dengan dasar Al-Qur’an Surat 93 Adh-Dhuha ayat 11 وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits, DAN TERHADAP NIKMAT DARI TUHANMU HENDAKLAH KAMU CERITERAKAN “.

” Oleh karenanya saya akan ceriterakaan kepada panjenengan semua para Kyai dan Nyai pimpinan Pondok Pesantren se-Jawa Timur yang hadir pada cara sarasehan ini. Bagaimana, mohon maaf kenikmatan yang kami terima dengan Pesantren Amanatul Ummah yang terbesar se-Indonesia ini. Agar dapat dicermati, dipahami, ditelaah dan kemudian dipraktekkan, supaya mendapatkan kenikmatan yang sama “, lanjut Kyai Asep.

Kemudian Kyai Asep mulai menceriterakan susah payahnya dan pahit getirnya serta perjuangan beratnya membangun Pondok Pesantren Amanatul Ummah miliknya.

Tahun 2002 membeli tanah di desa Kembangbelor Pacet Mojokerto. Kemudian tahun 2006 mulai mendirikan Pondok dengan bermodal sebuah rumah yang prihatin keadaannya. Sampai-sampai dinding rumah ditempeli kertas minyak untuk menahan dingin. Santrinya baru ada 55 santri. 23 laki-laki dan 22 perempuan. Tempat belajarnya ruang terbuka dengan mengunakan terop belaka. Tahun demi tahun jumlah murid bertambah sampai harus menyewa rumah penduduk sekitar untuk tempat belajar.

Seiring dengan itu mulai membangun ruang kelas dengan meminta batu kepada warga sekitar yang tidak dipakai, diangkat sendiri dibantu para santri untuk dibuat fondasi bagunan kelas. Begitu seterusnya sampai keadaannya seperti sekarang ini. Megah bangunannya bertingkat dan memiliki beberapa gedung bertingkat.

Prinsipnya harus dengan sistim yang mantab dan kurikulum yang baik. Juga dengan samangat akhlaqul karimah Tidak boleh malas dan tidak boleh berkata tidak bisa.

Ghofirin mederator yang juga sebagai sekretaris OPOP provinsi Jawa timur menjelaskan progam OPOP (one pesantren one produk) adalah progam pemberdayaan Pesantren penguatan ekonomi berbasis Pesantren.

OPOP mempunyai tiga pilar pertama Santripreneur, kedua Pesantren preneur, dan ketiga sosialpreneur. Santripreneor maksudnya agar di Pesantren santri tidak hanya kaya dengan ilmu agama saja tetapi juga memiliki ilmu usaha atau ekonomi agar bisa menjadi interpteneur atau usahawan.

Sedang Pesantrenpreneur bermaksud agar Pesantren menjadi Pesantren mandiri. Bisa menghidupi pesantrennya dengan sumber dana tidak hanya dari uang spp santri tetapi juga dari usaha ekonomi produktif yang dimiliki pesanten via OPOP.

Adapun Sosialpreneur adalah untuk menghapus opini jika Pesantren itu lulusanya menghasilkan pengangguran. Dengan OPOP lulusan Pesantren diajak untuk menjadi interpreneur atau wirausahawan.

Nantinya setiap Pesantren yang menjadi anggota OPOP akan dberikan suntikan dana hibah dari provinsi Jawa timur sebesar lima puluh juta rupiah untuk modal ekonomi produktif OPOP( satu pesantren satu produk) . Dengan terlebih dahulu harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya mendirikan koperasi.

Dengan OPOP terjadi hubungan yang sinergis antar pesantren, baik sistim pengolahan produksi, managemen usaha, peluang usaha dan marketing.

Sekitar pukul 10.30 Wib gubenur Jawa Timur Bu Khofifa Indar Parawansa memasuki ruang pertemuan didampingi oleh bupati Mojokerto Ikhfina Fahmawati dan wakil bupati Mojokerto Muhammad Al- Barra serta para kepala dinas propinsi dan staf.
Acara opening ceremony Silaturrahmi Pesantren dan Peserta Program OPOP Jawa Timur didahului dengan pemberian santunan oleh gubenur Jawa Timur kepada anak yatim.

Diteruskan lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian sambutan-sambutan. Selanjutnya doa penutup dan terakhir acara diskusi Kopilaborasi sambang pesantren OPOP.

Gus Barra wakil bupati Mojokerto dalam sambutannya sebagai ketua yayasan Amanatul Ummah mengatakan : ” Menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya kepda ibu gubenur Jawa Timur bahwa Pesantren Amanatul Ummah dijadikan tempat untuk silaturahmi yang merupakan kehormatan bagi kami”.

” Kami mendukung sepenuhnya progam OPOP Provinsi Jawa Timur karena akan menjadikan Pesantren mandiri “, sambung gus Barra.

Selanjutnya gus Barra menyatakan bahwa sejarah mencatat umat Nahdliyin pada tahun 1913 sudah mengenal nahdliyatut tujjam atau kebangkitan saudagar yang bisa dikatakan sebagai kebangkitan pengusaha.

Semangat tegline Pesantren Berdaya Masyarakat Sejahtera harus terus di gelorakan, jadi bagai mana Pesantren berjaya kuat ekonominya yang kemudian membawa kehidupan masyarakat sekitarnya sejahtera.

Dulu sebelum ada pondok pesantren Amanatul Ummah, jalan masuk ke pesantren dari Pandanarum sempit dan sepi sekali. Orang bilang dijalan itu kalau siang yang lewat makhluk kasar manusia tapi kalau malam yang lewat makhluk halus.

Tetapi sekarang setelah ada pondok pesantren Amanatul Ummah jalan sudah lebar dan ramai, kehidupan masyarakat sekitar yang dulu serba kekurangan sekarang membaik ekoniminya, karna terimbas adanya pesantren Amanatul Ummah yang menciptakan berbagai jenis usaha ekonomi.

Antara lain cuci pakaian santri, warung-warung dan sewa rumah untuk pengunjung pesantren, penginapan dan yang terakhir baru baru ini dibuka distinasi wisata baru Bernah de Valey milik desa Kembangbelor yang dibiayai murni dananya dari urunan/saham warga Kembangbelor.

Kyai Asep dalam sambutanya sebagai pemangku Pondok Pesantren Amanatul Ummah mengatakan : “Bantuan dari provinsi untuk modal usaha ekonomi produktif supaya dijaga dengan baik kalau bisa menjadi sepuluh milyar. Jangan sampai terdengar kabar uang bantuan lima puluh juta itu habis dalam satu bulan”.

” Kami berkeinginan membantu suksesnya progam OPOP propinsi Jawa Timur ini dengan mengadakan kegiatan pelatihan semacam ini tiap dua bulan sekali untuk empat kabupaten, saya kira dalam setahun sudah selesai. Saya akan bantu membiayai kegiatan itu.

Pesantren yang ketempatan acara akan saya bantu sepuluh juta rupiah tanpa proposal dan mendirikan koperasi. Semua biaya acara, kami yang menanggung. Juga transport peserta kami yang menanggung dan mohon maaf besarnya uang transport lebih dari sekedar transport. Tolong pada pak Ghofirin di konsultasikan dengan ibu gubenur, bagai mana kedepanya nanti “, pungkas Kyai Asep

Bu khofifah dalam sambutannya mengatakan : ” Kepada bu Ikhfina bupati Mojokerto dan gus Barra wakil bupati Mojokerto yang orang Pesantren, hendaknya hidupkan ruh Pesantren, ruh spiritual dikalangan ASN”.

Kemudian Bu Khofifah menerangkan adanya kenyataan atau temuan bahwa ASN itu kalau bekerja diluar jam kerja menanyakan ada honor over timenya ? Padahal mestinya ASN itu kalau bekerja pada jam kerja sudah digaji oleh negara, sedangkan kalau bekerja diluar jam kerja anggaplah sebagai shodaqoh atau amal sholeh, yang kelak akan membawa rohmat di akhirat nanti.

Dalam kesempatan sambutan itu gubenur Jawa Timur Khofifah menjelaskan berbagai peluang usaha ekonomi produktif berbagai jenis usaha termasuk produk makan halal, busana muslim, perlengkapan sholat mualai dari ranah lokal, regional, nasional dan bisnis tingkat dunia.

Dan beliau meminta agar progam OPOP tingkat provinsi Jawa timur ini mendapat dukungan dari berbagai pesantren dan lembaga bisnis yang lain agar berhasil karena OPOP ini usaha memberdayakan pesantren dengan usaha ekonomi produktif.

Acara berakhir dengan diskusi yang dikemas dalam Kopilaborasi Sambang Pesantren OPO dengan tiga panelis Kyai Asep, Kadis KUKM Provinsi Jawa Timur dan Kadis Infokom dipandu moderator sari seorang penyiar Radio Suara Surabaya. (lin).

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News