Next Post

Politik “Brekele” Gara – Gara Punakawan

Oleh Hafidz Syarif Rusli, S.Ag., M.H.

Praktisi Hukum dan Pemerhati Sosial

 

“Bagong Punakawan yang slengekan mulai menerapkan politik pecah belah, politik adu domba, atau yang disebut Brekele Politik (politik amburadul) kepada para politikus yang pandai namun tidak cerdas, membuat Semar, Petruk, dan Gareng kebingungan alias “mumet ndase” ( bahasa Jawa: pusing kepala), Bagong sendiri adalah anak ragil dari Semar yang tercipta dari bayangan Semar”

Bagong pun mulai lebih slengekan ketika melakukan adu ayam jago, Bagong pun memberitahu kepada saudara saudaranya, “Adu jago itu memiliki filosofi yang dapat kita petik lhoo…Reng, Truk, diantaranya berani dan jujur, sikap ksatria, sikap sportif, serta sikap melindungi pasangannya. Lha Truk, Reng, mana sekarang politik sing Jujur ksatria, sportif, tidak ada. Manusia sudah keblinger, hilang imannya sama Gusti Allah, ngawur (red : seenaknya sendiri), “ kata Bagong.

Setiap ayam, lanjut Bagong, punya gaya bertarung masing-masing. Bibit, sangat berpengaruh. Jadi, gaya bertarung itu sesuai garis keturunannya. Kalau dari parpol, tentu berbeda dari yang berlatar-belakang pebisnis. Yang dasarnya dia orang kaya, atau baru saja kaya, tentu gaya bertarungnya beda.

Strategi politik jitu Bagong dalam adu jago sama dengan gaya tarung politik khas Bagong yaitu awur-awuran dan diajak bergulingan di tanah. “Gaya bertarung itu adalah tanda bahwa ada saatnya penguasa harus berada di bawah agar ingat siapa yang mereka wakili dan harus ditaklukkan, “ seru Bagong kepada Petruk, Gareng, Semar. Banyak orang takut dengan gaya politik Bagong, dengan gaya amburadul alias politik Brekele.

Di Pilkada Ponorogo pasca pandemi Covid-19, barangkali boleh jadi ada rasa ketakutan, khawatir, kebingungan bagaimana mendapatkan masa yang sudah pandai dalam demokrasi, tidak didasarkan pada landasan yang kuat, prediksi seorang Semar sambil berkeluh kesah sama ndoro ndoronya.

“Kenyataan masa rekom sebagian Cabup dan Cawabup sudah mendapatkan, dan juga sudah dimunculkan para jagonya, namun masih sulit diprediksi apakah beberapa calon bupati yang baru dan incumbent sebenarnya ada dugaan kongkalikong (saling kerja sama diam diam, red), rakyat Ponorogo seharusnya tahu dan paham politik yang digunakan oleh jagoannya Bagong, Ndoro, “ tegas Semar kepada Bendoronya.

Mari kita kuliti satu per satu alasan mengapa Bagong memilih Politik Brekele, dalam pagelaran Pilkada di pasca pandemi Covid-19 khusus di kota Ponorogo. Terlalu mudah di prediksi, kenyataan kenapa? Gaya amburadul lebih tepat ketimbang menggunakan politik jujur, namun ketika kita berpolitik jujur pasti sudah ketahuan arah arus politik yang dilakukan calon pasangan Bupati Ponorogo.  Bagaimana dampak pandemi COVID-19 terhadap politik di kota Ponorogo? Di permukaan, kita melihat sedikit perubahan.

Dengan demikian, kenapa seorang Bagong memilih politik Brekele, karena sulit diprediksi korban politiknya. Dibandingkan dengan korban di masa pandemi Covid-19, sebuah krisis ekonomi yang berhubungan dengan wabah akan lebih menentukan daripada tantangan kesehatan masyarakat.

Publik, khususnya para warga masyarakat Ponorogo sebagai pemilih Cabup dan Cawabup di kota Reog ini akan menyelenggarakan Pilkada. Mereka tentu bertanya apa sih pentingnya Pilkada di saat mereka harus berjuang melawan wabah corona ini?

Bukankah sekarang lebih penting bagaimana corona segera hilang dari muka bumi. Tak kalah penting, masyarakat kecil bisa kembali bekerja untuk mengisi perut yang telah dikencangkan ikat pinggangnya beberapa bulan ini. Seolah-olah langkah KPU bertentangan dengan logika publik.

Demokrasi dan Keadilan hukum bagi kebanyakan masyarakat kecil seperti barang mahal. Namun sebaliknya, menjadi barang murah bagi segelintir elit. Demokrasi dan keadilan hukum hanya dimiliki oleh golongan yang mempunyai kekuatan dan akses politik serta ekonomi saja. Demokrasi bagi semua hanya kamuflase. Realitanya demokrasi dan hukum  justru dibuat untuk menghancurkan masyarakat miskin dan menyanjung kaum elit.

Mengapa semua ini terjadi? Sebab landasan yang diterapkan adalah menyerahkan kepada akal manusia yang mengenyampingkan halal haram sebagai standar keadilan. Oleh karena itu, mencari keadilan yang seadil-adilnya hanyalah ilusi belaka.

 

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News