Next Post

Pentingnya Belajar Sejarah dalam Perspektif Islam

Oleh: Hafidz syarif Rusli
Akademisi dan Praktisi Hukum

Secara etimologi, sejarah berasal dari bahasa Arab, syajaratun, yang berarti pohon. … Karena sejarah mengajarkan pengalaman dan kebajikan terhadap umat manusia.

Mengutip dalam Al Qur’an, telah menyebutkan, “….Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu..(Q.S Al-Hasyr :18), Kalamullah memberikan penjelasan dan pedoman kepada Muhammad tentang sejarah perjuangan-perjuangan nabi sebelumnya yang disebut dengan amstal.

Oleh karena itu, untuk dapat menangkap pelajaran dari pesan-pesan sejarah di dalamnya, memerlukan kemampuan menangkap yang tersirat sebagai ibarat atau ibrah di dalamnya. Seperti yang tersurat dalam Q.S. 12: 111, “laqad kana fi qashasihim ‘ibratun li ulil albab”. Sesungguhnya dalam sejarah itu terdapat pesan-pesan sejarah yang penuh perlambang, bagi orang-orang yang memahaminya.

Dua pertiga Al-Qur’an disajikan dalam bentuk kisah. Al-Qur’an dan Al-Hadits ini merupakan pedoman hidup bagi manusia. Dengan demikian, betapa berkepentingannya kita terhadap kajian-kajian kesejarahan dalam kedua sumber tersebut. Menangkap pesan-pesan sejarah untuk menciptakan sejarah, untuk mengetahui “pohon sejarah” apa yang sedang dibuat. “Kasyajaratin thayyibah” pohon sejarah yang sukses dengan fondasi akar yang kuat, batang yang menjulang dan ranting yang merindang serta buah sejarah yang bisa dinikmati sepanjang musim. “Kasyajaratin khabisyah” pohon sejarah yang rapuh, akar yang tercabut dari bumi, tidak ajeg dalam hidup yang akhirnya mudah runtuh dan rubuh.

Ketika petunjuk Allah digunakan sebagai pedoman, qa diibaratkan sebagai “pelita kaca” yang bercahaya seperti mutiara dan dinyalakan dengan bahan bakar min syajaratin mubarakah (Q.S. 24: 35). Lihatlah sejarah Nabi Musa yang diibaratkan sebagai pohon yang tinggi dan tumbuh di tempat yang tinggi (Q.S. 28: 30). Sebaliknya, Al-Qur’an juga memberikan gambaran kegagalan Nabi Yunus yang dilukiskan sebagai “pohon labu” yang rendah dan lemah (Q.S. 37: 146). Sementara bagi yang mencoba menciptakan sejarah dengan menjauhkan dirinya dari petunjuk Allah, hasilnya hanyalah akan menumbuhkan sebatang “pohon pahit” (Q.S. 37: 62, 64 dan Q.S. 44: 43).

Hal inilah kenapa Allah menurunkan sehuah kitab yang di sebut Al Qur’an Nur Karim dengan sebuah sejarah masa lampau ketika Muhammad risau dan galau terhadap umatnya. Makna sejarah secara kebahasaan dari berbagai bahasa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodesasi.

Mengapa Allah memberikan rumusan, untuk memperoleh masa depan, harus menoleh kemasa lalu? Ada apa kisah dalam sejarah dalam Al-Quran dapat digunakan sebagai pedoman “Mengubah Sejarah” ditempat berbeda, dan waktu yang tidak sama? Sejarah memberikan Mau’idzah (pelajaran) yang membuat umat Islam dzikra (sadar) sebagai actor sejarah, untuk menciptakan sejarah yang benar.
Nah, disisi lain, dalam sebuah pemberitaan Jakarta, CNN Indonesia tanggal, Jumat, 18/09/2020 16:25, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib dipelajari siswa SMA dan sederajat. Di kelas 10, sejarah digabung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Sementara Bagi kelas 11 dan 12 mata pelajaran sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang tak bersifat wajib.
Hal itu tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021. CNNIndonesia.com memperoleh file sosialisasi Kemendikbud tentang penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional.

Ada satu hal yang mungkin bisa dijadikan dasar bahwa pemerintah saat ini menjadikan mata pelajaran sejarah tidak wajib, karena pemerintah memfokuskan lulusan SMA kepada dunia kerja, vokasi dan wirausaha yang diperlukan.

Hal tersebut diatas kalau toh Indonesia adalah mayoritas umat Islam dan minoritas beragama lain maka sangatlah kontradiktif dengan penjelasan apa yang diberikan Qur’an tentang pentingnya sebuah Sejarah itupun agama lainpun juga demikian seharusyalah mengenal sejarah untuk berintrospeks, mengobservasii terhadap suatu kegagalan kegalan sebuah program program yang lalu untuk di jadikan referensi, kita pun bisa menganalogikan dengan sebuah keputusan hukum Yurisprudensi dijadikan dasar untuk memutuskan hakim dalam sebuah perkara.

Sebuah harapan adanya’ suatu keseimbangan dan harmonisasi antara muamalah dan agama dal persoalan sejarah masa lampau sebagai tolak ukur atau ibrah untuk merencanakan sebuah program program baru mencerdaskan anak anak didik menuju kebenaran dunia dan akhirat.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News