Next Post

Melawan Gajah

Foto: Ilustrasi percaturan politik (sumber: pinterpandai.com)
Foto: Ilustrasi percaturan politik (sumber: pinterpandai.com)

Oleh: Hafidz Syarif Rusli

Pengamat Politik dan Praktisi Hukum

 

Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo kali ini terjadi fenomena yang tidak lazim, bahkan bisa dikatakan, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Ponorogo berbeda sama sekali dengan yang terjadi di daerah lain.

Meskipun secara politik bisa dijelaskan, namun untuk tingkatan daerah sekelas kabupaten, tentu hal ini sangat luar biasa. Bagaimana masyarakat begitu bersemangat membentuk barisan relawan untuk mendukung pasangan calon yang menjadi penantang sang petahana.

Sepertinya, kekecewaan masyarakat begitu tinggi terhadap kinerja pemerintahan Ipong Muchlisoni selama ini. Sehingga terlihat sekali gerakan masyarakat yang begitu masif dalam mengusung gerakan perubahan, yang dalam kalimat sederhana bisa diartikan ganti bupati.

Namun, apakah itu artinya mereka adalah pendukung Sugiri Sancoko dan Lisdyarita? Ternyata tidak. Menurut penelitian penulis, Sugiri Sancoko hanyalah menjadi simbol perlawanan terhadap petahana. Karena tidak ada calon lain. Sedangkan Lisdyarita adalah representasi kelompok nasional yang menjadi basis massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dimana PDIP selalu menjadi simbol perlawanan kaum marjinal atau biasa disebut wong cilik.

Tapi apakah semudah itu mengalahkan Ipong? Tentu saja tidak, tidak semudah itu mengalahkan gajah. Meskipun menggunakan nama Relawan Semut Ireng. Karena perlu kerja politik yang luar biasa untuk mengalahkan sang petahana yang begitu perkasa hampir di semua lini. Apalagi jika tanpa didukung pendanaan yang mumpuni. Tapi harus diakui, melawan tim pabrikan tentu tidak mudah bagi para pembalap lokal yang berlaga dengan modal dengkul.

Dalam pengamatan penulis, faktor dana inilah yang menyebabkan tim pasangan calon Rilis (Sugiri Sancoko – Lisdyarita) masih terkotak-kotak dan tidak solid. Jika ini dibiarkan berlarut-larut, kapal besar terfragmentasi menjadi faksi-faksi maka akan sangat mudah bagi petahana untuk mengalahkannya. Di sisi lain, karena keterbatasan dana, Sugiri terlihat begitu lamban dalam mengeksekusi setiap tahapan yang harus dilakukan. Sehingga walaupun menurut penulis langkahnya sudah benar (on the track) tapi tidak cukup untuk memenangkan kompetisi ini.

Lebih jauh, menurut penulis, dalam kontestasi ini, paslon Rilis begitu kedodoran melawan pasangan petahana. Mereka hanya mengandalkan kekecewaan masyarakat sebagai bahan bakarnya. Lantas, apakah mampu mengalahkan petahana dengan kondisi seperti ini? Tentu bisa, harapan masih belum habis. Ibarat pepatah, bola itu bundar, masih ada kesempatan sampai tanggal 9 Desember.

Dalam penilaian penulis, Ipong tidak benar-benar kuat, hal ini terlihat dari langkahnya mengajukan pinjaman kepada PT. Sarana Multi Infrastruktur. Artinya, Ipong masih butuh suntikan dana untuk memenangkan kontestasi ini. Sehingga masih terbuka kemungkinan bagi tim Rilis untuk mengalahkannya, meskipun ini tidak mudah. Tapi melihat adanya pergerakan kekuatan-kekuatan baru yang merapat, jika terkelola dengan baik, maka sepertinya peta politik akan berubah.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News