Next Post

Bersatunya Dua Hati Ibarat Kopi Manis Gula Jawa

Oleh Hafidz Syarif Rusli, S.Ag., M.H.

Praktisi Hukum dan Akademisi

 

“Dan (Dia-lah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Al-Anfaal  ayat 63

Tetap bercermin ketika Asbabul Nuzul sampai surat Al Balad diturunkan dengan Qosam Allah (Allah Bersumpah) Ketika manusia diciptakan dengan kudrat serta potensi menghadapi serba kesulitan sejak ia dilahirkan hingga sampai ke liang lahat dan kenyataan tersebut mengharuskannya selalu siap berjuang menghadapi berbagai tentangan. Salah satu bentuk perjuangan mengangkat taraf hidup orang-orang yang lemah seperti anak-anak yatim.

Suatu Pertanyaan, milih pakan, papan, sandang? Terbesit hati gundah gulana ketika memahami Surat Al Balad 1 – 20, yang secara eksplisit memberikan pemahaman  Allah bersumpah dengan negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW yang tak lain adalah Makkah.

Dalam surat ini juga Allah menceritakan kondisi penduduk Makkah yang masih mendustakan agama Allah. Mereka silau dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka mengira dengan harta yang mereka kerahkan dan orang-orang yang mereka himpun akan mampu membendung kehendak Allah. Mereka takkan pernah mampu membungkam risalah kebenaran yang dibawa putra terbaik Kabilah Quraisy ini.

Hal diatas bukan saja terjadi di kota Makkah, melainkan di kota lain seperti Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Ini bisa dijadikan referensi atau hikmah, karena apa ? Setiap manusia sebagai primata pada dasarnya butuh makan, ketika perut sudah terisi maka energi untuk bekerja  akan bertambah, dan ketika kebanyakan makan manusia akan mabuk akal pikiran mulai halusinasi, akibat berbagai cara dilakukan dengan menyebarkan energi negatif.

Dalam suatu aturan buatan manusia dan hewan sering sama dan terasa aneh, Binatang membuat aturan main karena nurani, tapi manusia bikin aturan konon katanya ada naluri dan rekayasa akal budi, akal sehat dan akal bulus, hal ini sangat membingungkan diharapkan sebuah pertanyaan, akal sehat atau akal bulus? Mungkin kata orang cerdik pandai dan piawai mengungkapkan “aturan itu penting dan perlu menciptakan ketertiban hidup demi sebuah peradaban manusia yang terus menerus dikembangkan”, kalau dipahami sangat realistis ungkapan tersebut diatas.

Sebuah glitikan ibarat “ada gula ada semut”, semut diibaratkan sebuah tatanan masyarakat. Juga kebiasaan saat ini Wong Ponorogo dengan istilah “Ngopi Bareng” tujuan hanya minum kopi bersama-sama, ada yang minta manis dan pahit, dalam hal ini tidak punya tujuan untuk hanya sebatas berkumpul, dan tidak spesifik tanpa arah karena apa?

Ada dua, minum kopi manis dan kopi pahit, akibatnya akan timbul permasalahan-permasalahan, konflik-konflik, karena ada manis dan pahit atau diibaratkan ada yang diuntungkan, ada yang dirugikan, istilah Ngopi Bareng membuat penjual menjadi ribet kebingungan pada akhirnya pembeli teriak teriak kepada penjual karena yang dinginkan pembeli berbeda apa yang di pesankan, ada yang minta manis dan pahit, inilah hakikat nafsu keinginan manusia yang ingin berbeda, tanpa ada komitmen persatuan dan kesatuan.

Wong Ponorogo, dengan komitmen bersama “minum kopi manis gula Jawa”, sebuah adat kebiasaan leluhur yang beradab, kesopanan, dan perdamaian, berimbas kepada tatanan  masyarakat berbeda pun datang bersatu untuk mencari makan, papan, dan sandang, ketika disatukan hatinya dengan istilah “Minum Kopi Manis Gula Jawa”.

Belajar dengan tatanan masyarakat semut perlu? Coba kita simpulkan analisis dengan asumsikan ketika kata ” Ngopi Bareng” semut pasti melirik dan merasakan nikmatnya kopi manis, namun ketika kopi itu pahit semut pun tidak akan melirik, tidak adanya kesatuan dan persatuan untuk membangun tatanan masyarakat yang lebih damai, sopan, dan beradab, namun ketika ada komitmen minum kopi “manis” Gulo Jowo, munculnya tatanan masyarakat  yang baru lebih mendamaikan dengan sopan serta beradab, yang mampu menyatukan visi dan misi dalam sebuah tatanan atau aturan yang berbudi.

Tidak bisa dipungkiri ketika bersatunya dua hati menjadi kesatuan hati merupakan anugerah hidayah dari Allah yang tidak dapat dibeli. Dan ketika bersatunya dua hati merupakan sumber kekuatan tatanan masyarakat atau umat khususnya kota Ponorogo, sebagai sumber kekuatan mendamaikan serta menegakkan sebuah tatanan dan aturan menuju sebuah kebenaran.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *