Next Post

MERASA DI BOHONGI WARGA LOLAWANG TUTUP PINTU MASUK PT SAI

Mojokerto, jagadpos.com 02 November 2020
Aksi unjuk rasa di depan PT SAI ( SURABAYA AUTOCOMP INDONESIA)
Puluhan warga sudah satu pekan jaga transporter memuat sampah /Limbah domestik yang di ambil oleh pihak ketiga yang sebelumnya ada pernyataan sebelum ada kesepakatan warga dan pihak ketiga limbah PT SAI tidak bisa di keluarkan , hari ini Senin 2 November 2020 warga dan Organisasi Kepemudaan Pemuda Pancasila di Kabupaten Mojokerto berunjuk rasa di depan PT Surabaya Autocomp Indonesia (SAI) yang terletak di Ngoro Indusrial Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Mojokerto,Mereka menuntut perusahaan kabel itu menyerahkan limbah kepada warga yang tinggal di sekitar perusahaan tersebut.

Puluhan warga itu berasal dari Desa Lolawang Kecamatan Ngoro yang di bantu oleh Organisasi Kepemudaan Pemuda Pancasila dari beberapa daerah di Jawa Timur, seperti Jombang, Pasuruan, Sidoarjo dan Malang. Para warga minta perusahaan tidak lagi memberikan pengelolaan limbah kepada rekanan perusahaan. Sebab, selama 18 tahun warga tidak bisa mengelola limbah PT SAI diantaranya berupa botol minuman, kardus dan skrap bekas potongan kabel tembaga, karena limbah dikelola oleh CV Giri Meru milik salah satu anggota DPRD di Kabupaten Mojokerto.

Karena kecewa dengan sikap perusahaan yang terkesan kurang kooperatif,dan warga merasa di bohongi pada akhirnya warga aksi menutup pintu masuk perusahaan dengan mendirikan tenda dan memarkirkan dua mobil milik Desa tepat di pintu masuk PT SAI .

Kami warga Desa Lolawang sangat kecewa, kita menutup karena aktivitas pabrik PT SAI berada di wilayah Desa Lolawang,” kata Ahmad Saiful Rozi kepada wartawan dilokasi, Senin (2/11).

Aksi unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai menjadi marah lantaran perusahaan tidak merespon orasi warga. Pintu gerbang perusahaan sempat di dorong warga bahkan keluar masuk karyawan sempat dihambat warga. Namun aksi unjuk rasa kembali mereda setelah beberapa koordinator aksi meminta warga untuk tenang.

Warga mengancam tidak akan membuka pintu masuk perusahaan jika pihak PT SAI tidak menandatangani MOU yang sudah disepakati warga dengan PT SAI

Menurut Saiful, Pemerintah Desa Lolawang sudah memenuhi persyaratan yang diminta oleh PT SAI, seperti ijin pengelolaan dan pengangkutan limbah. Namun pihak perusahaan tetap memberikan limbah ke CV Giri Meru.

Sudah berulang kali kita melakukan mediasi dengan mereka ,tapi hasilnya nol, tidak ada realisasi sama sekali, ujarnya.

Saiful menambahkan, limbah tersebut bernilai 4 sampai 5 milyar dalam 1 bulan diantaranya limbah botol bekas, kardus dan Skrap potongan kabel tembaga.

Dalam satu hari limbah botol bekas dan kardus itu bisa mencapai 8 truk, sementara limbah Skrap potongan kabel tembaga mencapai 1 truk dalam waktu 3 hari.

Sementara Bapak Sugiarto selaku Kepala Desa Lolawang mendukung warganya yang menuntut perusahaan agar pengelolaan limbah itu dikelola oleh warga. Menurutnya, 18 tahun pengelolaan sampah dikelola oleh pihak ketiga.

Warga meminta PT SAI untuk melaksanakan kerjasama dengan pihak desa dengan dasar perusahaan tersebut masih merupakan wilayah Desa Lolawang ,sebagai kepala desa ( Bapak sugiarto ) hanya mendukung apa langkah terbaik bagi desa,Dan ini semua demi kemakmuran desa, ujarnya.

Sugiarto ( kades ) Memohon kepada pihak ke tiga CV giri meru merelakan Semua avalan B3 dan non B3 biar warga yang mengelola sampah sendiri,agar bisa menopang perekonomian warga lingkungan dan meningkatkan sumberdaya alam lingkungan sekitar, meskipun selama ini kontribusi PT SAI kepada warga Desa Lolawang dalam waktu satu tahun kurang lebih Rp 100 juta itu tidak bisa mengangkat perekonomian lingkungan masyarakat sekitar.

Biarkan Avalan Limbah B3 dan Limbah non B3 itu dikelola sendiri dengan kemampuan warga desa LOLAWANG masing-masing di lakukan dengan manajemen transparan oleh warga dan hal ini bukan inisiatif dari kepala desa,ujarnya (MQ79)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *