Next Post

Diduga Janggal, RSUD Gresik Dikomplain Terkait Prosedur Penanganan Covid-19

Gresik – Seorang pria dengan didampingi istri dan beberapa kuasa hukumnya mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sina Gresik, Kamis (16/7/2020), untuk mempertanyakan prosedur penanganan pasien Covid-19.

Pria berinisial AHF (40) ini menceritakan, sebelumnya, dirinya pernah dirawat di RSUD Ibnu Sina dengan status pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Namun, dia merasa janggal dengan penetapan status dirinya tersebut. Karena, selama dia dirawat di RSUD Ibnu Sina tidak pernah sekalipun ditunjukkan hasil swabnya.

“Pas saya tanya, katanya (perawat) hasilnya positif. Tapi waktu saya minta (hasil tes), dijawab tidak boleh. Bahkan waktu istri saya minta izin mau memfoto saja, tetap tidak boleh. Katanya rahasia,” tuturnya kepada media ini.

“Sedangkan keluarga saya sudah dijauhi bahkan dikucilkan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya. Sehingga saya merasa dihukum tanpa tahu apa kesalahan saya. Inilah yang membuat saya kecewa,” imbuhnya.

Padahal, dirinya menjalani perawatan tersebut berawal dari keluhan sakit tenggorokan akibat tersedak saat makan udang.

“Waktu itu, istri saya sedang tidak enak badan. Jadi saya masak sendiri untuk bekal kerja. Saya masak udang goreng. Pas saya makan saat istirahat, saya tersedak. Sakit, mungkin tertusuk ekor atau kepalanya. Kemudian saya minum dan berusaha saya telan. Tapi itu, malah tambah sakit,” kisahnya.

Setelah kejadian itu, Rabu (3/6/2020), malam harinya, dia merasa demam. Kemudian keesokan harinya, Kamis (4/6/2020) pagi, dia dengan ditemani istri, memeriksakan diri ke klinik BPJS di daerah Menganti, Gresik.

Karena belum enakan, hari Jumat (5/6/2020), dia memeriksakan kembali kondisi tubuhnya ke klinik yang sama. Namun kali ini dia tidak diperiksa, oleh pihak klinik, dia dirujuk ke Rumah Sakit Islam (RSI) Darus Syifa’ bagian penyakit dalam.

Karena takut, dia tidak langsung ke rumah sakit. Baru pada hari Senin (8/6/2020), dengan tetap ditemani istrinya, dia memeriksakan diri. Di sini dia di tes urine, tes darah, foto torax dan rapid tes.

“Hasilnya, sepengetahuan saya waktu itu ditunjukkan, seingat saya semuanya normal. Rapid tes pun hasilnya negatif. Hanya ada masalah di lambung,” ujarnya.

Oleh pihak rumah sakit, dirinya hanya diberi obat jenis Parasetamol dan vitamin yang harus diminum setiap 12 jam (2Xsehari) setiap pukul enam. Dengan penggunaan dosis dan aturan pakai tersebut, setiap enam jam, dirinya menggigil dan tidak bisa makan. Hanya ketika setelah minum obat, demam mulai turun, baru bisa makan. Karena tak kunjung membaik, hari Rabu (10/6/2020), dia kembali ke RSI Darus Syifa’. Oleh dokter, dia kembali difoto torax dan setelah melihat hasilnya, dokter menyatakan dirinya sebagai PDP (Pasien Dalam Pengawasan).

“Saya dirujuk ke RSUD dr. Sutomo, tapi saya tidak mau. Terus kami pulang. Hari Kamis (11/6/2020), karena saya masih mengigil, istri saya panik dan mengajak ke rumah sakit. Karena saya tidak mau ke RSUD dr. Sutomo, kemudian saya buka link radarcovid. Saya cek di RSUD Ibnu Sina ada kamar kosong, kemudian saya ke RS tersebut,” katanya.

Di RSUD Ibnu Sina, dia masuk ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) Jumat (12/6/2020) dini hari, sekira pukul 02.00 WIB. Diceritakannya, saat ditanya apa keluhannya, dia menjawab, lambung, tidak sesak napas, batuk maupun pilek. Kemudian dia diinfus.

Dia baru dipindahkan ke kamar di ruang Gardena pada Jumat (12/6/2020) malam, di kamar yang jendelanya selalu terbuka. Sehingga dia merasa sangat tidak nyaman, karena saat siang harus kepanasan dan malam diganggu nyamuk. Meski demikian, dia mengaku kondisinya waktu itu semakin membaik, dia sudah bisa jalan. Walaupun selama dirawat di ruang Gardena, dia tidak pernah bertemu dokter, hanya perawat yang bertugas untuk mengecek tekanan darah dan memberi obat.

Dan pada tanggal 18 Juni 2020, tepatnya hari Kamis, dia ditelfon istrinya, katanya, dia dinyatakan positif dan akan dipindahkan ke ruang Ixia yang katanya bertekanan negatif. Padahal, menurutnya, kondisinya sudah jauh lebih baik.

“Saat infus dilepas, saya sudah bisa makan nasi, bisa mandi dan lain-lain. Sedangkan selama dirawat di ruang Gardena, sejak tanggal 12 sampai 18 Juni 2020, saya hanya bisa makan buah,” akunya.

Kabar inilah yang membuat dia tertekan, dia membayangkan bagaimana kondisi keluarganya saat masyarakat tahu dirinya dinyatakan positif. Karena, adanya stigma (anggapan atau persepsi, red) negatif masyarakat terhadap penderita penyakit Covid-19 ini.

Setelah dipindahkan, Selasa (23/6/2020), dia dites swab lagi, tapi sama seperti swab yang pertama, hasilnya juga tidak ditunjukkan. Dia juga mengaku selama dipindahkan ke ruang Ixia tidak pernah dikunjungi dokter, hanya perawat yang selalu menanyakan apakah dirinya sesak napas dan perlu diambilkan oksigen

“Baru sekira lima hari sebelum pulang, dokter Nurdin mengunjungi saya. Dan menanyakan, apakah ada keluhan? Saya jawab, tidak ada. Keluhan saya hanya satu, saya mau pulang, karena di sini stres nggak bisa ngapa-ngapain,” ungkapnya.

Senin (1/7/2020), dirinya dites swab lagi dan malamnya, pukul 18.30 WIB, dia dipulangkan. Hasilnya keluar tanggal 4 Juli 2020 dan dikirimkan via whatsapp tanggal 7 Juli 2020, masih positif.

Inilah yang menurutnya aneh, karena ketika sudah di rumah, tanggal 3 Juli 2020, dia melakukan tes swab mandiri dan hasilnya negatif. Kemudian tanggal 10 Juli 2020, dia melakukan tes swab mandiri lagi, hasilnya juga negatif.

“Koq bisa hasilnya (tes swab) berbeda, padahal waktunya hampir bersamaan. Inilah yang ingin saya pertanyakan,” ucapnya.

Dia berharap pihak RSUD Ibnu Sina bisa memberikan klarifikasi tentang masalah tersebut agar dirinya dan keluarganya bisa kembali menjalani kehidupan sosial dengan normal.

Terpisah, pihak RSUD Ibnu Sina melalui Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Direktur Pelayanan Medik, dr. Wiwik Trirahayuningsih, menolak memberikan keterangan terkait permasalahan tersebut.

“Kami belum bisa jawab, belum bisa memberikan keterangan apa-apa. Karena kami masih harus memeriksa berkas-berkas rekam si pasien, rekam mediknya,” jawabnya.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *