Next Post

Tiga Asosiasi di Malang Raya Menyayangkan Adanya 62 Ribu Ton Gula Milik Petani

 

MALANG, JagadPos.Com -Dengan adanya Pengendapan Gula Di PG (Pabrik Gula) Sebanyak 62 Ribu Ton Milik Petani yang tak kunjung terjual juga di 2 Pabrik Gula di malang, yakni PG Kebon Aging dan PG Krebet.

 

Merespon masalah tersebut, 3 asosiasi pengusaha di Malang, menyarankan untuk membeli gula lokal milik petani.

Di antaranya, Asosiasi Pengusaha Cafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang, dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Malang. 

Dikatakan ketua Apkrindo Malang, Indra Setiyadi, bahwa gerakan ini adalah murni bentuk keprihatinan terhadap masalah petani tebu yang gulanya masih menumpuk dan tidak terjual ribuan ton di pabrik gula. 

“Kita berharap masyarakat bisa mengikuti asosiasi-asosiasi ini untuk menggunakan gula lokal. Walaupun harga mungkin lebih mahal sedikit. Sehingga untuk saudara-saudara kita petani tebu di Malang Raya ini tidak terpuruk,” katanya, saat diwawancarai realita.co, Jum’at (29/1), di Rumah Makan Kertanegara, di Jl. Kertanegara No. 1, Kota Malang. 

Pemilik RM Kertanegara ini juga mengungkapkan, pihaknya tidak mengikuti permainan gula. Ia mengaku orang awam di dunia gula, tetapi adalah konsumen yang sehari-hari menggunakan gula. “Untuk membantu petani gula malang raya ini, kita menghimbau teman-teman untuk membeli prodak lokal. Supaya bisa terserap. Mudah mudahan dengan gerakan ketiga asosiasi ini, nanti akan diikuti oleh berbagai komunitas yang ada di malang. Sehingga masalah gula ini cepat teratasi,” ungkapnya. 

Kembali ia menegaskan, bahwa pihaknya bukan ingin bermain di ranah gula, karena bukan bidangnya, namun murni bentuk keprihatinan terhadap masalah petani gula dan ingin membantu petani melalui gerakan ini. Ia juga berharap, pemerintah bisa segera memberikan solusi terkait permasalahan ini. 

“Harapan kami, pemerintah lebih bisa mengontrol, karena harus lebih prioritas gula rakyat daripada gula impor,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan pihak PHRI Malang, Agus Basuki, bawa pihaknya sangat mendukung gerakan membeli gula lokal. “Karena hal ini adalah untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal khususnya,” ujarnya. 

Tak beda dengan asosiasi lainnya, Suwanto, ketua APPBI Malang, mengatakan secara prinsip pihaknya prihatin dengan adanya kondisi tersebut.

“Makanya kami beberapa asosiasi bermaksud untuk berkumpul guna membahas masalah ini. Kami mencoba bisa turut andil dalam membantu menyelesaikan masalah ini,” katanya. 

Ia juga berharap, pemerintah segera menindaklanjuti masalah ini. Paling tidak, mengatur regulasi agar gula lokal menjadi komoditi nomor satu di Negara Indonesia. “Jangan sampai kalah dan hancur sama gula import,” pungkasnya (ADEL – END )

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News