Next Post

Sampah Pasar Menggunung, Sungai Grindulu Baosanlor Jorok dan Bau

Ponorogo – Aktivitas warga yang mulai bergeliat pasca diberlakukannya Adaptasi Kebiasaan Baru di Kabupaten Ponorogo membuat pasar tradisional pun memperoleh berkah, masyarakat menyambut keadaan ini dengan antusias dan penuh semangat. Pedagang dan pembeli kembali aktif di pasar tradisional.

Hal ini membuat pengelola pasar merasa kewalahan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan. Himbauan Protokol Covid-19 pun masih banyak yang mengabaikannya, baik Sosial Distancing maupun penggunaan masker.

Namun yang membuat miris sebenarnya bukan euforia itu, tapi berserakannya sampah plastik dan limbah pasar yang dibuang di bantaran sungai grindulu. Lokasi pasar Baosanlor yang berdekatan dengan sungai, membuat warga pasar seringkali membuang sampah atau limbahnya di area sungai.

Suryatin, salah satu pedagang di pasar tersebut yang berjualan di luar pasar mengatakan kondisi seperti ini sudah biasa.

“Sebenarnya agak risih juga. Apalagi kalau di musim hujan, air hujan dan bau sampah bercampur menjadi satu, baunya cukup menyengat. Tapi itu sudah menjadi pemandangan yang lumrah,” ujarnya, Senin (20/7/2020).

Lain lagi dengan pengakuan Fajar, Pedagang Ayam asal Bungkal, dirinya merasa bingung mau kemana membuang sampah dan limbah dagangannya.

“Saya juga bingung ke mana saya harus membuang limbah. Terpaksa saya bungkus plastik dan saya bawa pulang balik lagi,” katanya.

Para pedagang pasar tradisional Baosanlor yang beroperasi di hari pasaran Pon dan Kliwon ini berharap penuh pada Pemerintah Desa Baosanlor untuk lebih serius dalam mengelola pasarnya. Terutama fasilitas tempat sampahnya. Ini adalah hal yang vital dan sangat dibutuhkan oleh pedagang maupun pembeli.

Kekesalan warga seperti diungkapkan Maryati, pembeli asal Desa Selur, yang mengeluhkan bahwa kondisi pasar masih saja jorok seperti belum terjadi wabah corona.

“Kondisi pasar sekarang ini mulai ramai setelah wabah Corona selesai, namun sayangnya sampah dari dulu masih saja dibiarkan dibuang disungai. Silakan dilihat sendiri,” ujarnya sembari menunjukkan jari telunjuk ke arah sungai.

Salah seorang warga yang hendak membuang sampah di sungai Grindulu

Dikonfirmasi terpisah, Parlan, Kades Baosanlor menjelaskan, kondisi ini sudah agak lama terjadi dan pihaknya sudah berusaha membuatkan bak sampah.

“Kondisi ini (sampah) memang sudah agak lama terjadi. Kami sudah membuatkan bak sampah di belakang pasar, namun karena keterbatasan anggaran, kami belum bisa membuat permanen bak sampah tersebut,” kilahnya.

“Pernah ada janji dari Pak Bupati, ketika ada acara Subuh Berjamaah di Masjid Jami’ Baosanlor bahwa akan diberi bantuan untuk sarana pendukung pasar. Namun sampai saat ini belum ada kabarnya,” imbuhnya.

Dikatakannya, pendapatan yang bersumber dari pasar desa tersebut relatif kecil dan habis untuk penyelenggaraan pentas reyog yang rutin diadakan setiap tanggal sebelas.

“Pendapatan dari pasar desa ini masih kecil. Dari hasil tersebut hanya cukup digunakan untuk kegiatan rutin pentas reyog tanggal sebelas tiap bulan. Retribusi kami tarik sebesar Rp. 1.000,-. Kami juga masih berupaya serius memperbaiki sarana pasar tersebut. Dari Pemerintah Desa hanya bisa menyediakan fasilitas berupa dua buah gorong-gorong untuk tempat sampah. Coba nanti kami bahas dengan perangkat desa dan BPD,’ pungkas Parlan. (one)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Dapatkan berita terupdate kami.

ban11

Recent News