Next Post

Offroad di Desa Selur, Ajang Silaturahmi dan Promosi Wisata

Ponorogo – Seorang pebalap Offroad dan juga pengusaha sukses dari Sukabumi yang lahir di Desa Selur, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo mudik ke kampung halamannya. Namun kedatangannya tidak sendiri, dia mengundang komunitas offroad yang ada di kota Reog, Ponorogo dan sekitarnya untuk melakukan adventure (petualangan, red) di desanya, Sabtu (1/7/2020).

Nurcahyono, nama pengusaha itu, yang merupakan teman masa kecil Kepala Desa Selur, Suprapto, mengatakan bahwa dirinya membuat even tersebut sebagai ajang silaturahmi sekaligus membantu mengenalkan obyek wisata yang ada di Desa Selur.

“Ini bukan even resmi, hanya silaturahmi setelah sekian lama kita tidak bisa keluar akibat adanya pandemi (covid-19). Jadi ini hanya main bareng,” ujarnya.

“Sekaligus kita ingin mengenalkan obyek wisata di Desa Selur, membantu sahabat saya, Kepala Desa Selur, Bapak Suprapto,” imbuhnya.

Rencananya, pasca kegiatan, dirinya akan menyelenggarakan even resmi berdasarkan survei lokasi yang diperoleh saat adventure ini.

“ini kita sambil survei lokasi, Pak kades inginnya ada even resmi di sini. Jadi nanti akan kita buat kompetisi dan juga adventure dengan start dan finish di Desa Selur,” ungkapnya.

Tampak warga yang berjajar menonton para offroader sedang menjelajahi sungai. (Foto: Dian Wahyu/jponline.id)

 

Suprapto, Kepala Desa Selur yang hadir dalam even tersebut menyampaikan, pihaknya sangat berterimakasih kepada sahabatnya tersebut dan komunitas offroad yang berkenan hadir untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Jadi, seperti dikatakan Bapak Nurcahyo, kita ingin mengenalkan obyek wisata yang ada di Desa Selur, seperti Air Terjun Sunggah, Batu Semaur dan lain-lain,” ucapnya.

Menurutnya, pihaknya merencanakan membangun sirkuit offroad untuk menunjang program desa wisata di desanya.

“Kita ingin ada even tahunan, sehingga bisa menunjang promosi wisata desa yang ada di sini,” katanya kepada media ini sesaat sebelum masuk ke mobil yang dikemudikan Nurcahyono. Dalam kesempatan ini, dirinya menjadi navigator untuk menunjukkan rute yang akan dilalui dan obyek wisata yang hendak dikunjungi.

Baca juga: Meraba Peta Politik di Kecamatan Ngrayun Usai Kedatangan Sugiri Sancoko

Sementara perwakilan dari komunitas Reyog Offroad, Ponorogo hadir delapan unit kendaraan yang mengikuti even ini. Mbah Daro, begitu dia biasa disapa, salah satu pentolan komunitas Reyog Offroad menjelaskan bahwa tidak semua anggota bisa hadir karena kondisi pandemi ini.

“Sebenarnya, anggota kita ada 40 unit. Tapi tidak semuanya bisa hadir, sebab kondisinya tidak memungkinkan. Pandemi ini membuat kita libur, dan sekarang masih belum bisa intensif,” katanya.

Menurutnya, untuk bisa intens lagi, pihaknya butuh waktu, karena setelah libur mungkin kondisi mobil juga tidak begitu siap diajak jalan.

“Yang namanya kendaraan lama tidak dipakai, ada saja kendalanya. Untuk menyiapkan lagi juga butuh waktu, apalagi ini masa pandemi. Kita tahu, biaya mobil offroad berapa, apalagi kayak gini (sambil menunjuk mobil milik Nurcahyono) yang spek kompetisi,” pungkasnya.

Para offroader kedapatan sedang membagikan bingkisan dan mainan kepada warga. (Foto: Dian Wahyu/jponline.id)

 

Selain dari Ponorogo, komunitas yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain dari Wonogiri, Pacitan, Madiun, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain di Jawa Timur. Sekira dua puluh mobil ikut dalam kegiatan ‘mandi sungai dan  menggaruk tanah’ tersebut.

Yang menarik dan patut diberi aplaus adalah kepedulian dan empati para offroader tersebut terhadap warga sekitar. Tanpa banyak bicara dan publikasi, berkali-kali mereka kedapatan berhenti untuk memberikan mainan anak dan bingkisan kepada warga sekitar yang sedang menonton kegiatan tersebut. (ian)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *